Setiap hari dia pasti akan menunggu kematiannya. Dia akan seperti orang yang kekayaannya hampir habis, lalu takut jatuh miskin dan sengsara. Percayalah kekhawatiran seseorang terhadap umurnya jauh lebih buruk daripada khawatirkan kehilangan uang atau harta benda.
Mengapa?
Karena jika ia hanya kehilangan uang, dia bisa menghibur diri dengan mengatakan, “Besok juga dapat lagi” atau “Ah, nggak akan lama, pasti kembali.” Namun, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan sangat putus asa. Bisa jadi dia akan sering menyendiri, sedih memikirkan nasib. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Serba salah, tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bila orang tahu bahwa usianya akan panjang, maka dia akan memuaskan diri dengan berhura-hura, melakukan kemaksiatan dan kejahatan, karena dia kira bisa bertobat nanti-nanti saja di akhir hidup. Tobat seperti itu pasti tak akan diterima. Seperti pekerja yang selalu membuat marah tuannya selama setahun, tapi hanya berusaha untuk menyenangkan majikannya dalam seminggu dua minggu. Pasti sikap seperti ini tak akan disukai majikan. Ulahnya dianggap tak tulus, karena hanya cari muka untuk dapat bonus tahunan. Bukan hanya itu, pasti karyawan yang lain pun membenci pekerja penjilat seperti itu.
Rahasia umur manusia di tangan Tuhan. Memang benar, tobat dapat diterima di detik-detik akhir, karena Dia tahu manusia itu mempunyai sifat lalai, mudah terbawa hawa nafsu, imannya naik-turun. Tuhan mengampuni, karena perbuatannya dilakukan dengan tanpa rencana. Namun, bila seseorang berencana untuk bertobat di akhir hidupnya dan memuaskan nafsunya sebelum ajal, maka tobat itu pasti tak akan diterima. Sebab, Tuhan tahu si hamba telah berusaha menipu dan memerdaya-Nya.
Orang yang menunda tobat, layaknya seperti seorang pengutang yang selalu menunda-nunda membayar hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, hal yang terbaik bagi manusia adalah selalu merasa dirinya akan segera mati, sehingga mereka tidak menahan diri dari dosa dan selalu berbuat baik.
Namun, bukan manusia kalau tidak memiliki sifat bandel, keras kepala dan suka menyepelekan. Meskipun mereka tahu kematian pasti datang dan dia tahu kematian bisa datang kapan saja, tapi tak pernah merasa puas dengan kesenangan dunianya. Bila seorang dokter sudah memberi berbagai macam obat, tapi dia tak pernah menuruti anjuran dokter, maka jangan salahkan dokter kalau dia tak sembuh-sembuh. Demikian kata seorang sufi kelahiran Basrah, Abu Utsman Al-Jahizh.
Imam Al-Ghazali berpendapat, sebenarnya kita dihukum di akhirat bukan karena murka Tuhan kepada kita, tapi nafsu kitalah yang menyalakan kobaran neraka dalam diri. Atau, kala tubuh kita sakit karena kita makan makanan yang tidak sehat, maka bukan karena dokter kesal kita melanggar nasihatnya.
Siapa pun yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapatkan balasannya. Tak ada sedikit pun yang luput dari timbangan di Hari Perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada hari perhitungan.”
Di akhirat nanti seluruh tubuh kita akan memberi kesaksian atas perbuatan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Anggota tubuh kita bisa membela atau mungkin malah memperberat hukuman kita. Tergantung untuk apa kita menggunakannya di dunia.
Meskipun jiwa kita berusaha menyembunyikan perbuatan korup kita di dunia, tapi mulut, tangan dan kaki kita kelak tak akan bisa diajak kompromi dalam pengadilan Tuhan. Dia akan katakan di hotel mana mengadakan transaksi penyerahan uang. Sang tangan akan bersaksi, “Aku yang masukan uang itu ke koper hitam, lalu kubawa ke mobil melewati lobby.” Kaki pun bersaksi, “Aku disuruh berjalan seperti biasa, agar tak terlihat sedang bawa uang miliaran. Sengaja tak melalui lobby, karena sopir sudah menunggu di depan.” Kulit tubuh pun ikut angkat bicara, “Yah, waktu itu aku masih ingat. Baju yang dipakai berwarna putih dengan dasi merah. Parfumnya merk Caron’s Pavre, hadiah dari istrinya. Saya masih ingat.”
Tak akan ada satu pun pengacara yang bisa membantu. Tak akan ada saksi yang bisa disogok. Tak akan ada jaksa yang mampu merubah BAP. Tak akan ada pasal yang hilang. Tak akan ada markus (makelar kasus) yang bisa merekayasa penyelidikan dan penyidikan proses pengadilan. Seluruh episode kehidupan manusia akan diputar kembali. Semua detail pasti akan terungkap. Pengadilan ini berjalan dengan seadil-adilnya, karena Allah Mahaadil.
Manusia tak akan mampu menghindari pengadilan Tuhan. Tak akan mampu membayar media untuk merekayasa pencitraan kiprahnya di dunia. Tak akan mampu membayar demonstran untuk mengganggu jalannya sidang dan tak mampu mempengaruhi hakim dengan curriculum vitae yang berlembar-lembar.
Sekecil apa pun perbuatan kita pasti akan terekam oleh seluruh anggota tubuh. Rekaman perbuatan kita akan diputar di depan pengadilan yang lebih berani daripada Mahkamah Konstitusi. Semuanya dibuka. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada seorang pun yang dapat membela orang yang jelas-jelas bersalah. Tak akan ada hak istimewa. Semua diperlakukan sama. Setiap diri. Setiap manusia.
Karena jika ia hanya kehilangan uang, dia bisa menghibur diri dengan mengatakan, “Besok juga dapat lagi” atau “Ah, nggak akan lama, pasti kembali.” Namun, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan sangat putus asa. Bisa jadi dia akan sering menyendiri, sedih memikirkan nasib. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Serba salah, tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bila orang tahu bahwa usianya akan panjang, maka dia akan memuaskan diri dengan berhura-hura, melakukan kemaksiatan dan kejahatan, karena dia kira bisa bertobat nanti-nanti saja di akhir hidup. Tobat seperti itu pasti tak akan diterima. Seperti pekerja yang selalu membuat marah tuannya selama setahun, tapi hanya berusaha untuk menyenangkan majikannya dalam seminggu dua minggu. Pasti sikap seperti ini tak akan disukai majikan. Ulahnya dianggap tak tulus, karena hanya cari muka untuk dapat bonus tahunan. Bukan hanya itu, pasti karyawan yang lain pun membenci pekerja penjilat seperti itu.
Rahasia umur manusia di tangan Tuhan. Memang benar, tobat dapat diterima di detik-detik akhir, karena Dia tahu manusia itu mempunyai sifat lalai, mudah terbawa hawa nafsu, imannya naik-turun. Tuhan mengampuni, karena perbuatannya dilakukan dengan tanpa rencana. Namun, bila seseorang berencana untuk bertobat di akhir hidupnya dan memuaskan nafsunya sebelum ajal, maka tobat itu pasti tak akan diterima. Sebab, Tuhan tahu si hamba telah berusaha menipu dan memerdaya-Nya.
Orang yang menunda tobat, layaknya seperti seorang pengutang yang selalu menunda-nunda membayar hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, hal yang terbaik bagi manusia adalah selalu merasa dirinya akan segera mati, sehingga mereka tidak menahan diri dari dosa dan selalu berbuat baik.
Namun, bukan manusia kalau tidak memiliki sifat bandel, keras kepala dan suka menyepelekan. Meskipun mereka tahu kematian pasti datang dan dia tahu kematian bisa datang kapan saja, tapi tak pernah merasa puas dengan kesenangan dunianya. Bila seorang dokter sudah memberi berbagai macam obat, tapi dia tak pernah menuruti anjuran dokter, maka jangan salahkan dokter kalau dia tak sembuh-sembuh. Demikian kata seorang sufi kelahiran Basrah, Abu Utsman Al-Jahizh.
Imam Al-Ghazali berpendapat, sebenarnya kita dihukum di akhirat bukan karena murka Tuhan kepada kita, tapi nafsu kitalah yang menyalakan kobaran neraka dalam diri. Atau, kala tubuh kita sakit karena kita makan makanan yang tidak sehat, maka bukan karena dokter kesal kita melanggar nasihatnya.
Siapa pun yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapatkan balasannya. Tak ada sedikit pun yang luput dari timbangan di Hari Perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada hari perhitungan.”
Di akhirat nanti seluruh tubuh kita akan memberi kesaksian atas perbuatan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Anggota tubuh kita bisa membela atau mungkin malah memperberat hukuman kita. Tergantung untuk apa kita menggunakannya di dunia.
Meskipun jiwa kita berusaha menyembunyikan perbuatan korup kita di dunia, tapi mulut, tangan dan kaki kita kelak tak akan bisa diajak kompromi dalam pengadilan Tuhan. Dia akan katakan di hotel mana mengadakan transaksi penyerahan uang. Sang tangan akan bersaksi, “Aku yang masukan uang itu ke koper hitam, lalu kubawa ke mobil melewati lobby.” Kaki pun bersaksi, “Aku disuruh berjalan seperti biasa, agar tak terlihat sedang bawa uang miliaran. Sengaja tak melalui lobby, karena sopir sudah menunggu di depan.” Kulit tubuh pun ikut angkat bicara, “Yah, waktu itu aku masih ingat. Baju yang dipakai berwarna putih dengan dasi merah. Parfumnya merk Caron’s Pavre, hadiah dari istrinya. Saya masih ingat.”
Tak akan ada satu pun pengacara yang bisa membantu. Tak akan ada saksi yang bisa disogok. Tak akan ada jaksa yang mampu merubah BAP. Tak akan ada pasal yang hilang. Tak akan ada markus (makelar kasus) yang bisa merekayasa penyelidikan dan penyidikan proses pengadilan. Seluruh episode kehidupan manusia akan diputar kembali. Semua detail pasti akan terungkap. Pengadilan ini berjalan dengan seadil-adilnya, karena Allah Mahaadil.
Manusia tak akan mampu menghindari pengadilan Tuhan. Tak akan mampu membayar media untuk merekayasa pencitraan kiprahnya di dunia. Tak akan mampu membayar demonstran untuk mengganggu jalannya sidang dan tak mampu mempengaruhi hakim dengan curriculum vitae yang berlembar-lembar.
Sekecil apa pun perbuatan kita pasti akan terekam oleh seluruh anggota tubuh. Rekaman perbuatan kita akan diputar di depan pengadilan yang lebih berani daripada Mahkamah Konstitusi. Semuanya dibuka. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada seorang pun yang dapat membela orang yang jelas-jelas bersalah. Tak akan ada hak istimewa. Semua diperlakukan sama. Setiap diri. Setiap manusia.