Rabu, 05 September 2012

Rahasia Kematian Dan Rekaman Hidup

Mengapa umur manusia dirahasiakan? Mengapa tak ada yang tahu kapan kematian akan datang? Sebab memang lebih baik dirahasiakan. Jika seseorang tahu bahwa usianya pendek, dia justru tak akan pernah menikmati hidup.
Setiap hari dia pasti akan menunggu kematiannya. Dia akan seperti orang yang kekayaannya hampir habis, lalu takut jatuh miskin dan sengsara. Percayalah kekhawatiran seseorang terhadap umurnya jauh lebih buruk daripada khawatirkan kehilangan uang atau harta benda.
Mengapa?
 Karena jika ia hanya kehilangan uang, dia bisa menghibur diri dengan mengatakan, “Besok juga dapat lagi” atau “Ah, nggak akan lama, pasti kembali.” Namun, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan sangat putus asa. Bisa jadi dia akan sering menyendiri, sedih memikirkan nasib. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Serba salah, tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bila orang tahu bahwa usianya akan panjang, maka dia akan memuaskan diri dengan berhura-hura, melakukan kemaksiatan dan kejahatan, karena dia kira bisa bertobat nanti-nanti saja di akhir hidup. Tobat seperti itu pasti tak akan diterima. Seperti pekerja yang selalu membuat marah tuannya selama setahun, tapi hanya berusaha untuk menyenangkan majikannya dalam seminggu dua minggu. Pasti sikap seperti ini tak akan disukai majikan. Ulahnya dianggap tak tulus, karena hanya cari muka untuk dapat bonus tahunan. Bukan hanya itu, pasti karyawan yang lain pun membenci pekerja penjilat seperti itu.

Rahasia umur manusia di tangan Tuhan. Memang benar, tobat dapat diterima di detik-detik akhir, karena Dia tahu manusia itu mempunyai sifat lalai, mudah terbawa hawa nafsu, imannya naik-turun. Tuhan mengampuni, karena perbuatannya dilakukan dengan tanpa rencana. Namun, bila seseorang berencana untuk bertobat di akhir hidupnya dan memuaskan nafsunya sebelum ajal, maka tobat itu pasti tak akan diterima. Sebab, Tuhan tahu si hamba telah berusaha menipu dan memerdaya-Nya.

Orang yang menunda tobat, layaknya seperti seorang pengutang yang selalu menunda-nunda membayar hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, hal yang terbaik bagi manusia adalah selalu merasa dirinya akan segera mati, sehingga mereka tidak menahan diri dari dosa dan selalu berbuat baik.

Namun, bukan manusia kalau tidak memiliki sifat bandel, keras kepala dan suka menyepelekan. Meskipun mereka tahu kematian pasti datang dan dia tahu kematian bisa datang kapan saja, tapi tak pernah merasa puas dengan kesenangan dunianya. Bila seorang dokter sudah memberi berbagai macam obat, tapi dia tak pernah menuruti anjuran dokter, maka jangan salahkan dokter kalau dia tak sembuh-sembuh. Demikian kata seorang sufi kelahiran Basrah, Abu Utsman Al-Jahizh.

Imam Al-Ghazali berpendapat, sebenarnya kita dihukum di akhirat bukan karena murka Tuhan kepada kita, tapi nafsu kitalah yang menyalakan kobaran neraka dalam diri. Atau, kala tubuh kita sakit karena kita makan makanan yang tidak sehat, maka bukan karena dokter kesal kita melanggar nasihatnya.
Siapa pun yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapatkan balasannya. Tak ada sedikit pun yang luput dari timbangan di Hari Perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada hari perhitungan.”

Di akhirat nanti seluruh tubuh kita akan memberi kesaksian atas perbuatan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Anggota tubuh kita bisa membela atau mungkin malah memperberat hukuman kita. Tergantung untuk apa kita menggunakannya di dunia.

Meskipun jiwa kita berusaha menyembunyikan perbuatan korup kita di dunia, tapi mulut, tangan dan kaki kita kelak tak akan bisa diajak kompromi dalam pengadilan Tuhan. Dia akan katakan di hotel mana mengadakan transaksi penyerahan uang. Sang tangan akan bersaksi, “Aku yang masukan uang itu ke koper hitam, lalu kubawa ke mobil melewati lobby.” Kaki pun bersaksi, “Aku disuruh berjalan seperti biasa, agar tak terlihat sedang bawa uang miliaran. Sengaja tak melalui lobby, karena sopir sudah menunggu di depan.” Kulit tubuh pun ikut angkat bicara, “Yah, waktu itu aku masih ingat. Baju yang dipakai berwarna putih dengan dasi merah. Parfumnya merk Caron’s Pavre, hadiah dari istrinya. Saya masih ingat.”

Tak akan ada satu pun pengacara yang bisa membantu. Tak akan ada saksi yang bisa disogok. Tak akan ada jaksa yang mampu merubah BAP. Tak akan ada pasal yang hilang. Tak akan ada markus (makelar kasus) yang bisa merekayasa penyelidikan dan penyidikan proses pengadilan. Seluruh episode kehidupan manusia akan diputar kembali. Semua detail pasti akan terungkap. Pengadilan ini berjalan dengan seadil-adilnya, karena Allah Mahaadil.

Manusia tak akan mampu menghindari pengadilan Tuhan. Tak akan mampu membayar media untuk merekayasa pencitraan kiprahnya di dunia. Tak akan mampu membayar demonstran untuk mengganggu jalannya sidang dan tak mampu mempengaruhi hakim dengan curriculum vitae yang berlembar-lembar.
Sekecil apa pun perbuatan kita pasti akan terekam oleh seluruh anggota tubuh. Rekaman perbuatan kita akan diputar di depan pengadilan yang lebih berani daripada Mahkamah Konstitusi. Semuanya dibuka. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada seorang pun yang dapat membela orang yang jelas-jelas bersalah. Tak akan ada hak istimewa. Semua diperlakukan sama. Setiap diri. Setiap manusia.

Semoga manfaat friend !

KERJA, IBADAH, JIHAD

Salahlah orang yang mengira bahwa agama hanya melulu mengurusi halal-haram, surga-neraka, tahlil dan zikir di masjid tanpa konsep wirausaha dan kerja keras. Agama tak hanya mengurusi jenazah, masjid, kenduri atau kegiatan formalitas simbolik lainnya.

Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari, tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya. Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.
Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).

Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang mau dicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap Muslim. Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).

Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nya tak pernah melarang kita menjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim). Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).

Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi ini adalah pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan. Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria. Nabi Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala (peternak) dan saudagar sukses.

Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhada yang dimuliakan Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak dan istrinya. Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan imbalannya.

Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga sebagai bekal ukhrawi. Karena itu, agama melarang seseorang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan muamalat manusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa, pertanian, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kesungguhan dan kerja keras seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi sekaligus.

Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar, “Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR At-Tabrani).

semoga manfaat friend !