nikmati hidup
Jumat, 10 Mei 2013
20 Tanya Jawab Rasulullah Dengan Iblis
Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk ...meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.
Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”
Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”
Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”
Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”
Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”
Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”
Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”
Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”
Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.
Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”
Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”
Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.
Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”
Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”
Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”
Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”
Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”
Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.
Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”
Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”
Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.
Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”
Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”
Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”
Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”
Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”
Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”
Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”
Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”
Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”
Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”
Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”
Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”
Semoga bermanfaat......!
Kamis, 03 Januari 2013
Renungan Kalbu
Kalbu merupakan tempat bersemayamnya kalimat thayyibah (baik). Karena,
iman ditiupkan oleh Allah hanya kepada hati orang-orang yang telah
dipilih-Nya dan mendapat petunjuk-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Abu
Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyaknya shalat, dan karena
banyaknya puasa, tapi dia mengalahkan kalian karena sesuatu yang
bersemayam di dalam hatinya."
Sesuatu yang ada dalam hati yang
membuat manusia saling berbeda-beda, maqam-derajat keimanannya. Dan,
dzikir merupakan terapi bagi kalbu, yang menyehatkan. Orang yang sedikit
dalam berdzikir berarti hatinya sedang sakit. Sedangkan orang yang tak
pernah berzikir, hatinya telah mati.
Mengingat Allah tak cukup hanya
dengan ego atau pikiran semata, sebab pikiran tidak dapat meraih cahaya
di atas cahaya. Hanya melalui dzikir kita bisa menapaki jalan ruhani
secara sungguh-sungguh. Dzikir adalah obat ruhani, sekaligus inti jalan
ruhani.
Lalu, mengapa masih banyak
orang yang berdzikir, menangis, bertobat dalam dzikir dan menangis
tersedu-sedu dalam doanya, tapi perilaku maksiatnya tetap jalan?
Mulutnya masih penuh dengan kedustaan. Lisannya tak bisa lepas dari
membicarakan aib orang lain, gosip dan fitnah. Hatinya juga masih dengki
dengan keberhasilan orang lain. Matanya tak berkedip menatap
kemaksiatan. Telinganya gemar mendengar maksiat. Tangannya tak sanggup
menolak suap atau sogokan. Dan, kakinya masih jauh dari masjid. Air mata
dzikir dan air mata tobatnya pun menjadi sia-sia. Air matanya hanya
menjadi bahan gunjingan orang-orang yang melihatnya.
Sahabat, air
mata bukanlah ukuran pertobatan. Mulut bukanlah jaminan pengakuan.
Banyak orang berzikir dengan lisannya, tetapi belum dengan hatinya.
Untaian tasbih di tangan bukanlah jaminan bahwa hatinya juga bertasbih.
Surban dan jubah putih yang membungkus tubuhnya tidak menunjukkan bening
dan putihnya hati si pemakai.
Zikir yang belum disertai dengan
kehadiran hati telah membuka peluang kepada pikiran, ego, dan hawa nafsu
untuk melalaikan hati kita. Kita melupakan misi zikir kita, tugas
personal kita. Kita tak menghargai apa yang dikaruniakan kepada kita,
dan kita tidak mengenal nilai sejatinya.
Jalan spiritual sebenarnya
adalah jalan yang sederhana. Intinya adalah, "Kalbu mencari Allah dan
Allah mencari kalbu." Ia merupakan terjemahan ungkapan "Dia mencintai
mereka dan mereka mencintai-Nya." Segala sesuatu merupakan kehendak-Nya.
Zikir kita adalah kehendak-Nya dan kelalaian kita juga kehendak-Nya.
salam,semoga bermanfaat sobat....!
Rabu, 05 September 2012
Rahasia Kematian Dan Rekaman Hidup
Mengapa
umur manusia dirahasiakan? Mengapa tak ada yang tahu kapan kematian
akan datang? Sebab memang lebih baik dirahasiakan. Jika seseorang tahu
bahwa usianya pendek, dia justru tak akan pernah menikmati hidup.
Setiap hari dia pasti akan menunggu kematiannya. Dia akan seperti orang yang kekayaannya hampir habis, lalu takut jatuh miskin dan sengsara. Percayalah kekhawatiran seseorang terhadap umurnya jauh lebih buruk daripada khawatirkan kehilangan uang atau harta benda.
Setiap hari dia pasti akan menunggu kematiannya. Dia akan seperti orang yang kekayaannya hampir habis, lalu takut jatuh miskin dan sengsara. Percayalah kekhawatiran seseorang terhadap umurnya jauh lebih buruk daripada khawatirkan kehilangan uang atau harta benda.
Mengapa?
Karena jika ia hanya kehilangan uang, dia bisa menghibur diri dengan mengatakan, “Besok juga dapat lagi” atau “Ah, nggak akan lama, pasti kembali.” Namun, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan sangat putus asa. Bisa jadi dia akan sering menyendiri, sedih memikirkan nasib. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Serba salah, tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bila orang tahu bahwa usianya akan panjang, maka dia akan memuaskan diri dengan berhura-hura, melakukan kemaksiatan dan kejahatan, karena dia kira bisa bertobat nanti-nanti saja di akhir hidup. Tobat seperti itu pasti tak akan diterima. Seperti pekerja yang selalu membuat marah tuannya selama setahun, tapi hanya berusaha untuk menyenangkan majikannya dalam seminggu dua minggu. Pasti sikap seperti ini tak akan disukai majikan. Ulahnya dianggap tak tulus, karena hanya cari muka untuk dapat bonus tahunan. Bukan hanya itu, pasti karyawan yang lain pun membenci pekerja penjilat seperti itu.
Rahasia umur manusia di tangan Tuhan. Memang benar, tobat dapat diterima di detik-detik akhir, karena Dia tahu manusia itu mempunyai sifat lalai, mudah terbawa hawa nafsu, imannya naik-turun. Tuhan mengampuni, karena perbuatannya dilakukan dengan tanpa rencana. Namun, bila seseorang berencana untuk bertobat di akhir hidupnya dan memuaskan nafsunya sebelum ajal, maka tobat itu pasti tak akan diterima. Sebab, Tuhan tahu si hamba telah berusaha menipu dan memerdaya-Nya.
Orang yang menunda tobat, layaknya seperti seorang pengutang yang selalu menunda-nunda membayar hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, hal yang terbaik bagi manusia adalah selalu merasa dirinya akan segera mati, sehingga mereka tidak menahan diri dari dosa dan selalu berbuat baik.
Namun, bukan manusia kalau tidak memiliki sifat bandel, keras kepala dan suka menyepelekan. Meskipun mereka tahu kematian pasti datang dan dia tahu kematian bisa datang kapan saja, tapi tak pernah merasa puas dengan kesenangan dunianya. Bila seorang dokter sudah memberi berbagai macam obat, tapi dia tak pernah menuruti anjuran dokter, maka jangan salahkan dokter kalau dia tak sembuh-sembuh. Demikian kata seorang sufi kelahiran Basrah, Abu Utsman Al-Jahizh.
Imam Al-Ghazali berpendapat, sebenarnya kita dihukum di akhirat bukan karena murka Tuhan kepada kita, tapi nafsu kitalah yang menyalakan kobaran neraka dalam diri. Atau, kala tubuh kita sakit karena kita makan makanan yang tidak sehat, maka bukan karena dokter kesal kita melanggar nasihatnya.
Siapa pun yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapatkan balasannya. Tak ada sedikit pun yang luput dari timbangan di Hari Perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada hari perhitungan.”
Di akhirat nanti seluruh tubuh kita akan memberi kesaksian atas perbuatan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Anggota tubuh kita bisa membela atau mungkin malah memperberat hukuman kita. Tergantung untuk apa kita menggunakannya di dunia.
Meskipun jiwa kita berusaha menyembunyikan perbuatan korup kita di dunia, tapi mulut, tangan dan kaki kita kelak tak akan bisa diajak kompromi dalam pengadilan Tuhan. Dia akan katakan di hotel mana mengadakan transaksi penyerahan uang. Sang tangan akan bersaksi, “Aku yang masukan uang itu ke koper hitam, lalu kubawa ke mobil melewati lobby.” Kaki pun bersaksi, “Aku disuruh berjalan seperti biasa, agar tak terlihat sedang bawa uang miliaran. Sengaja tak melalui lobby, karena sopir sudah menunggu di depan.” Kulit tubuh pun ikut angkat bicara, “Yah, waktu itu aku masih ingat. Baju yang dipakai berwarna putih dengan dasi merah. Parfumnya merk Caron’s Pavre, hadiah dari istrinya. Saya masih ingat.”
Tak akan ada satu pun pengacara yang bisa membantu. Tak akan ada saksi yang bisa disogok. Tak akan ada jaksa yang mampu merubah BAP. Tak akan ada pasal yang hilang. Tak akan ada markus (makelar kasus) yang bisa merekayasa penyelidikan dan penyidikan proses pengadilan. Seluruh episode kehidupan manusia akan diputar kembali. Semua detail pasti akan terungkap. Pengadilan ini berjalan dengan seadil-adilnya, karena Allah Mahaadil.
Manusia tak akan mampu menghindari pengadilan Tuhan. Tak akan mampu membayar media untuk merekayasa pencitraan kiprahnya di dunia. Tak akan mampu membayar demonstran untuk mengganggu jalannya sidang dan tak mampu mempengaruhi hakim dengan curriculum vitae yang berlembar-lembar.
Sekecil apa pun perbuatan kita pasti akan terekam oleh seluruh anggota tubuh. Rekaman perbuatan kita akan diputar di depan pengadilan yang lebih berani daripada Mahkamah Konstitusi. Semuanya dibuka. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada seorang pun yang dapat membela orang yang jelas-jelas bersalah. Tak akan ada hak istimewa. Semua diperlakukan sama. Setiap diri. Setiap manusia.
Karena jika ia hanya kehilangan uang, dia bisa menghibur diri dengan mengatakan, “Besok juga dapat lagi” atau “Ah, nggak akan lama, pasti kembali.” Namun, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan sangat putus asa. Bisa jadi dia akan sering menyendiri, sedih memikirkan nasib. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Serba salah, tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bila orang tahu bahwa usianya akan panjang, maka dia akan memuaskan diri dengan berhura-hura, melakukan kemaksiatan dan kejahatan, karena dia kira bisa bertobat nanti-nanti saja di akhir hidup. Tobat seperti itu pasti tak akan diterima. Seperti pekerja yang selalu membuat marah tuannya selama setahun, tapi hanya berusaha untuk menyenangkan majikannya dalam seminggu dua minggu. Pasti sikap seperti ini tak akan disukai majikan. Ulahnya dianggap tak tulus, karena hanya cari muka untuk dapat bonus tahunan. Bukan hanya itu, pasti karyawan yang lain pun membenci pekerja penjilat seperti itu.
Rahasia umur manusia di tangan Tuhan. Memang benar, tobat dapat diterima di detik-detik akhir, karena Dia tahu manusia itu mempunyai sifat lalai, mudah terbawa hawa nafsu, imannya naik-turun. Tuhan mengampuni, karena perbuatannya dilakukan dengan tanpa rencana. Namun, bila seseorang berencana untuk bertobat di akhir hidupnya dan memuaskan nafsunya sebelum ajal, maka tobat itu pasti tak akan diterima. Sebab, Tuhan tahu si hamba telah berusaha menipu dan memerdaya-Nya.
Orang yang menunda tobat, layaknya seperti seorang pengutang yang selalu menunda-nunda membayar hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, hal yang terbaik bagi manusia adalah selalu merasa dirinya akan segera mati, sehingga mereka tidak menahan diri dari dosa dan selalu berbuat baik.
Namun, bukan manusia kalau tidak memiliki sifat bandel, keras kepala dan suka menyepelekan. Meskipun mereka tahu kematian pasti datang dan dia tahu kematian bisa datang kapan saja, tapi tak pernah merasa puas dengan kesenangan dunianya. Bila seorang dokter sudah memberi berbagai macam obat, tapi dia tak pernah menuruti anjuran dokter, maka jangan salahkan dokter kalau dia tak sembuh-sembuh. Demikian kata seorang sufi kelahiran Basrah, Abu Utsman Al-Jahizh.
Imam Al-Ghazali berpendapat, sebenarnya kita dihukum di akhirat bukan karena murka Tuhan kepada kita, tapi nafsu kitalah yang menyalakan kobaran neraka dalam diri. Atau, kala tubuh kita sakit karena kita makan makanan yang tidak sehat, maka bukan karena dokter kesal kita melanggar nasihatnya.
Siapa pun yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapatkan balasannya. Tak ada sedikit pun yang luput dari timbangan di Hari Perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada hari perhitungan.”
Di akhirat nanti seluruh tubuh kita akan memberi kesaksian atas perbuatan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan seluruh anggota tubuh yang kita miliki bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Anggota tubuh kita bisa membela atau mungkin malah memperberat hukuman kita. Tergantung untuk apa kita menggunakannya di dunia.
Meskipun jiwa kita berusaha menyembunyikan perbuatan korup kita di dunia, tapi mulut, tangan dan kaki kita kelak tak akan bisa diajak kompromi dalam pengadilan Tuhan. Dia akan katakan di hotel mana mengadakan transaksi penyerahan uang. Sang tangan akan bersaksi, “Aku yang masukan uang itu ke koper hitam, lalu kubawa ke mobil melewati lobby.” Kaki pun bersaksi, “Aku disuruh berjalan seperti biasa, agar tak terlihat sedang bawa uang miliaran. Sengaja tak melalui lobby, karena sopir sudah menunggu di depan.” Kulit tubuh pun ikut angkat bicara, “Yah, waktu itu aku masih ingat. Baju yang dipakai berwarna putih dengan dasi merah. Parfumnya merk Caron’s Pavre, hadiah dari istrinya. Saya masih ingat.”
Tak akan ada satu pun pengacara yang bisa membantu. Tak akan ada saksi yang bisa disogok. Tak akan ada jaksa yang mampu merubah BAP. Tak akan ada pasal yang hilang. Tak akan ada markus (makelar kasus) yang bisa merekayasa penyelidikan dan penyidikan proses pengadilan. Seluruh episode kehidupan manusia akan diputar kembali. Semua detail pasti akan terungkap. Pengadilan ini berjalan dengan seadil-adilnya, karena Allah Mahaadil.
Manusia tak akan mampu menghindari pengadilan Tuhan. Tak akan mampu membayar media untuk merekayasa pencitraan kiprahnya di dunia. Tak akan mampu membayar demonstran untuk mengganggu jalannya sidang dan tak mampu mempengaruhi hakim dengan curriculum vitae yang berlembar-lembar.
Sekecil apa pun perbuatan kita pasti akan terekam oleh seluruh anggota tubuh. Rekaman perbuatan kita akan diputar di depan pengadilan yang lebih berani daripada Mahkamah Konstitusi. Semuanya dibuka. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada seorang pun yang dapat membela orang yang jelas-jelas bersalah. Tak akan ada hak istimewa. Semua diperlakukan sama. Setiap diri. Setiap manusia.
Semoga manfaat friend !
KERJA, IBADAH, JIHAD
Salahlah orang yang mengira bahwa agama hanya melulu mengurusi
halal-haram, surga-neraka, tahlil dan zikir di masjid tanpa konsep
wirausaha dan kerja keras. Agama tak hanya mengurusi jenazah, masjid,
kenduri atau kegiatan formalitas simbolik lainnya.
Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari, tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya. Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.
Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).
Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang mau dicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap Muslim. Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).
Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nya tak pernah melarang kita menjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim). Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).
Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi ini adalah pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan. Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria. Nabi Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala (peternak) dan saudagar sukses.
Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhada yang dimuliakan Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak dan istrinya. Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan imbalannya.
Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga sebagai bekal ukhrawi. Karena itu, agama melarang seseorang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan muamalat manusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa, pertanian, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kesungguhan dan kerja keras seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi sekaligus.
Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar, “Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR At-Tabrani).
semoga manfaat friend !
Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari, tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya. Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.
Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).
Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang mau dicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap Muslim. Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).
Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nya tak pernah melarang kita menjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim). Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).
Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi ini adalah pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan. Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria. Nabi Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala (peternak) dan saudagar sukses.
Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhada yang dimuliakan Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak dan istrinya. Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan imbalannya.
Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga sebagai bekal ukhrawi. Karena itu, agama melarang seseorang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan muamalat manusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa, pertanian, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kesungguhan dan kerja keras seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi sekaligus.
Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar, “Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR At-Tabrani).
semoga manfaat friend !
Langganan:
Komentar (Atom)