Kamis, 03 Januari 2013

Renungan Kalbu


Kalbu merupakan tempat bersemayamnya kalimat thayyibah (baik). Karena, iman ditiupkan oleh Allah hanya kepada hati orang-orang yang telah dipilih-Nya dan mendapat petunjuk-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Abu Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyaknya shalat, dan karena banyaknya puasa, tapi dia mengalahkan kalian karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya."
Sesuatu yang ada dalam hati yang membuat manusia saling berbeda-beda, maqam-derajat keimanannya. Dan, dzikir merupakan terapi bagi kalbu, yang menyehatkan. Orang yang sedikit dalam berdzikir berarti hatinya sedang sakit. Sedangkan orang yang tak pernah berzikir, hatinya telah mati.
Mengingat Allah tak cukup hanya dengan ego atau pikiran semata, sebab pikiran tidak dapat meraih cahaya di atas cahaya. Hanya melalui dzikir kita bisa menapaki jalan ruhani secara sungguh-sungguh. Dzikir adalah obat ruhani, sekaligus inti jalan ruhani.
Lalu, mengapa masih banyak orang yang berdzikir, menangis, bertobat dalam dzikir dan menangis tersedu-sedu dalam doanya, tapi perilaku maksiatnya tetap jalan? Mulutnya masih penuh dengan kedustaan. Lisannya tak bisa lepas dari membicarakan aib orang lain, gosip dan fitnah. Hatinya juga masih dengki dengan keberhasilan orang lain. Matanya tak berkedip menatap kemaksiatan. Telinganya gemar mendengar maksiat. Tangannya tak sanggup menolak suap atau sogokan. Dan, kakinya masih jauh dari masjid. Air mata dzikir dan air mata tobatnya pun menjadi sia-sia. Air matanya hanya menjadi bahan gunjingan orang-orang yang melihatnya.
Sahabat, air mata bukanlah ukuran pertobatan. Mulut bukanlah jaminan pengakuan. Banyak orang berzikir dengan lisannya, tetapi belum dengan hatinya. Untaian tasbih di tangan bukanlah jaminan bahwa hatinya juga bertasbih. Surban dan jubah putih yang membungkus tubuhnya tidak menunjukkan bening dan putihnya hati si pemakai.
Zikir yang belum disertai dengan kehadiran hati telah membuka peluang kepada pikiran, ego, dan hawa nafsu untuk melalaikan hati kita. Kita melupakan misi zikir kita, tugas personal kita. Kita tak menghargai apa yang dikaruniakan kepada kita, dan kita tidak mengenal nilai sejatinya.
Jalan spiritual sebenarnya adalah jalan yang sederhana. Intinya adalah, "Kalbu mencari Allah dan Allah mencari kalbu." Ia merupakan terjemahan ungkapan "Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya." Segala sesuatu merupakan kehendak-Nya. Zikir kita adalah kehendak-Nya dan kelalaian kita juga kehendak-Nya.

salam,semoga bermanfaat sobat....!