Renungan Kalbu
Kalbu merupakan tempat bersemayamnya kalimat thayyibah (baik). Karena,
iman ditiupkan oleh Allah hanya kepada hati orang-orang yang telah
dipilih-Nya dan mendapat petunjuk-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Abu
Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyaknya shalat, dan karena
banyaknya puasa, tapi dia mengalahkan kalian karena sesuatu yang
bersemayam di dalam hatinya."
Sesuatu yang ada dalam hati yang
membuat manusia saling berbeda-beda, maqam-derajat keimanannya. Dan,
dzikir merupakan terapi bagi kalbu, yang menyehatkan. Orang yang sedikit
dalam berdzikir berarti hatinya sedang sakit. Sedangkan orang yang tak
pernah berzikir, hatinya telah mati.
Mengingat Allah tak cukup hanya
dengan ego atau pikiran semata, sebab pikiran tidak dapat meraih cahaya
di atas cahaya. Hanya melalui dzikir kita bisa menapaki jalan ruhani
secara sungguh-sungguh. Dzikir adalah obat ruhani, sekaligus inti jalan
ruhani.
Lalu, mengapa masih banyak
orang yang berdzikir, menangis, bertobat dalam dzikir dan menangis
tersedu-sedu dalam doanya, tapi perilaku maksiatnya tetap jalan?
Mulutnya masih penuh dengan kedustaan. Lisannya tak bisa lepas dari
membicarakan aib orang lain, gosip dan fitnah. Hatinya juga masih dengki
dengan keberhasilan orang lain. Matanya tak berkedip menatap
kemaksiatan. Telinganya gemar mendengar maksiat. Tangannya tak sanggup
menolak suap atau sogokan. Dan, kakinya masih jauh dari masjid. Air mata
dzikir dan air mata tobatnya pun menjadi sia-sia. Air matanya hanya
menjadi bahan gunjingan orang-orang yang melihatnya.
Sahabat, air
mata bukanlah ukuran pertobatan. Mulut bukanlah jaminan pengakuan.
Banyak orang berzikir dengan lisannya, tetapi belum dengan hatinya.
Untaian tasbih di tangan bukanlah jaminan bahwa hatinya juga bertasbih.
Surban dan jubah putih yang membungkus tubuhnya tidak menunjukkan bening
dan putihnya hati si pemakai.
Zikir yang belum disertai dengan
kehadiran hati telah membuka peluang kepada pikiran, ego, dan hawa nafsu
untuk melalaikan hati kita. Kita melupakan misi zikir kita, tugas
personal kita. Kita tak menghargai apa yang dikaruniakan kepada kita,
dan kita tidak mengenal nilai sejatinya.
Jalan spiritual sebenarnya
adalah jalan yang sederhana. Intinya adalah, "Kalbu mencari Allah dan
Allah mencari kalbu." Ia merupakan terjemahan ungkapan "Dia mencintai
mereka dan mereka mencintai-Nya." Segala sesuatu merupakan kehendak-Nya.
Zikir kita adalah kehendak-Nya dan kelalaian kita juga kehendak-Nya.
salam,semoga bermanfaat sobat....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar